Ayo Menulis!

Facebooktwittermail

 

Setahun lebih sudah saya tidak menulis di blog ini. Selama itu pula peperangan antara keinginan untuk menulis dengan hambatan untuk melakukannya berkecamuk.

Seorang teman pernah mengatakan bahwa sebuah tulisan yang dihasilkan akan membuat anda hidup 1000 tahun. Entah darimana dia kutip pernyataan ini, namun ada benarnya juga. Saya selalu teringat teman bernama Melati yang sekarang menjadi Peneliti Madya di Balitbang Kementerian Pertanian. Setiap memotivasi kawan-kawan untuk menulis saya selalu menceritakan pengalaman tentang dia dalam soal menulis.

Menulis itu gampang. Itu yang saya sampaikan saat berbicara di klub literasi yang digagas oleh kawan-kawan di Kanwil Bea Cukai Kepri beberapa tahun yang lalu. Tulis saja apa yang ingin ditulis, kumpulkan yang satu tema, kembangkan dan edit redaksionalnya,. Namun ada satu hal penting yang harus dimiliki seseorang ketika ingin menulis. Dia harus memiliki minat baca yang tinggi. Berdasakan pengalaman pribadi, bacaan penulis akan memperlancar dan mempengaruhi gaya tulisannya. Contohnya kawan saya Melati tadi. Diawal 1980an saat kami sekolah di SMP 7 Padang dia mendapat pujian dari guru Bahasa Indonesia dalam pelajaran mengarang. Saat kami semua satu kelas memulai karangan dengan “pada suatu hari” dia memulai karangannya dengan “pagi itu mentari bersinar cerah, burung-burung berkicau dengan riang”! Epik kan? Patut diduga dia sudah langganan majalah cerpen remaja yang marak saat itu, hahaha. Jangan heran kalau tulisan saya kadang terpengaruh oleh gaya tulisan Kho Ping Hoo, para sastrawan angkatan pujangga baru atau gaya ngocolnya Hilman Hariwijaya di serial Lupus-nya. Bisa jadi suatu saat ada tulisan saya yang bergaya tulisan Enny Arrow atau novel Nick Carter.

Selama setahun lebih itu pula banyak ide yang akan menjadi tema tulisan. Tentang bagaimana tetap waras ditengah gempuran hoax, tentang perjalanan ke Mentawai dan banyak hal lainnya termasuk permintaan tulisan dari klub literasi Kanwil Bea Cukai Sumatera Bagian Barat. Namun karena kesibukan lain tulisan itu tak pernah jadi walau catatan-catatan kasar tentang apa yang akan ditulis itu ada. Momentum menulis harus dijaga agar tak kehilangan relevansinya dengan situasi. Jika anda punya ide tulisan, bersegeralah untuk menyelesaikannya karena anda akan kesulitan me-recall ide-ide dan mengembangkannya jika ada jeda waktu yang panjang.

Teknologi juga sangat membantu untuk mengembangkan minat menulis ini. Sekarang setiap orang sangat gampang untuk mengartikulasikan pemikiran-pemikiran mereka. Media jejaring sosial seperti Facebook yang mengakomodasi tulisan panjang dalam platform-nya bisa menjadi pijakan awal agar tulisan-tulisan kita dibaca orang. Jika sudah mulai keracunan menulis banyak laman-laman web yang menyediakan blog gratis. Sudah pasti kalau yang gratis ini menyediakan kapasitas penulisan yang terbatas. Pun jika menulis itu sudah semakin meracuni tetap tersedia tempat menulis dengan menggunakan domain berbayar yang juga sangat murah biayanya. Dilain pihak sekarang banyak penerbit yang sudah berani menerbitkan tulisan-tulisan yang dibuat anak-anak atau penulis pemula. Seorang pegawai Bea Cukai, misalnya, sudah dikontrak untuk menulis pengalaman perjalanannya setelah tulisannya yang bermula dari blog dia tawarkan ke penerbit itu diminati banyak orang. Bahkan klub literasi yang digagas oleh kawan-kawan di Kanwil Bea dan Cukai Kepri sudah menghasilkan sebuah buku yang berjudul “Ketika Kami di Tebeka.”

Ayo menulis!

 

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *