Bayang-Bayang Sepanjang Badan

Facebooktwittermail

Dua hari yang lalu saya ke Kotobaru di Kabupaten Dharmasraya mengunjungi seorang sahabat.
Kotobaru merupakan sebuah kota kecamatan yang terletak dekat perbatasan Sumatera Barat dengan Jambi. Kota kecil itu berjarak kurang lebih 200 km dari Padang, ibukota propinsi. Dibutuhkan waktu 5 jam mengendarai mobil untuk mencapainya. Kabupaten Dharmasraya sendiri merupakan sebuah kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Sijunjung. Sebuah pemekaran yang mematikan induknya.

Dhamasraya dulunya merupakan nama dari ibukota Kerajaan Melayu. Penggerak utama perekonomian kabupaten ini adalah hasil perkebunan terutama karet dan kelapa sawit. Sangat banyak yang berubah dari daerah ini dibandingkan saat saya masih bolak balik Padang-Jakarta naik bus antara tahun 1996-1998. Untuk mencapai Rumah Makan Umega di Gunung Medan sebagai tempat perhentian pertama dari Padang rasanya begitu jauh karena begitu sepinya daerah yang dilalui. Sekarang disepanjang jalan sudah berdiri banyak bangunan.

Perjalanan kemaren itu juga menambah pengalaman saya. Travel yang saya tumpangi membawa saya memasuki daerah Sitiung karena mengantar beberapa penumpang. Sitiung selama ini lebih banyak saya dengar dari cerita papa saya. Sebagai seorang insinyur pertanian dan dosen di Fakultas Pertanian Universitas Andalas, beliau pernah dilibatkan dalam penelitian untuk mempersiapkan Sitiung sebagai daerah transmigrasi serta mendampingi para transmigran dimasa-masa awal kedatangan mereka disana. Dari hal inilah saya mendengar betapa kerasnya kehidupan para transmigran dalam beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Namun kunjungan saya senja itu sangat menakjubkan saya. Disetiap blok yang ada sudah tumbuh pasar-pasar kelas kecamatan, rumah-rumah permanen dengan berbagai model berdiri, kendaraan roda dua dan roda empat terbaru menandakan membaiknya kondisi ekonomi mereka. Begitu juga kondisi penduduk setempat dan pendatang yang mencoba peruntungan mereka di kabupaten ini

Namun dibalik cerita sukses ini ada juga terdengar cerita sebaliknya. Dari perbincangan saya
dengan sopir travel dalam perjalanan ke Padang keesokan harinya saya mendapat cerita bahwa tak sedikit penduduk yang kehidupannya terpuruk atau bahkan mengalami depresi setelah tingkat perekonomiannya membaik. Pola hidup konsumtif membutakan mata sehingga mereka lupa untuk mempersiapkan diri terhadap perubahan keadaan. Bayangkan, saat harga karet bagus pendapatan mereka mencapai Rp. 25 juta/perhari dari hasil kebun karet seluas 1 hektar! Duit seakan berlomba-lomba mengejar mereka. Bahkan ada pameo diantara mereka jika mereka berkunjung ke Padang lalu masih membawa sisa uang saat kembali ke Dharmasraya maka mereka dianggap bodoh dalam membelanjakan uang. Kondisi ini membuat mereka terlena sehingga saat harga karet anjlok mereka tidak siap. Kehilangan aset akibat kredit macet adalah konsekuensinya. Cerita sopir travel ini mengingatkan saya akan cerita yang dialami banyak senior. Pertengahan 1980an, kewenangan institusi tempat saya bekerja dipangkas akibat penyalah-gunaan wewenang. Banyak senior mengalami goncangan jiwa akibat perubahan keadaan itu

Kondisi seperti inilah yang selalu mendorong saya untuk selalu mengingatkan junior-junior saat mereka mulai bekerja. Selalu membumi dan mengukur bayang-bayang adalah hal utama yang saya sampaikan saat pertama kali membrifing mereka. Begitu juga mengajak mereka berpikir tentang persiapan masa depan mereka. Bayangkan, sebagai PNS berijazah diploma hasil kuliah 1 atau 3 tahun setelah tamat SMA dan masa kerja 0 tahun mereka memiliki take home pay yang banyaknya minimal 1,5 kali lebih banyak dari isteri saya yang memulai karir sebagai PNS bermodalkan ijazah sarjana dan sekarang memiliki masa kerja 20 tahun! Saya tak ingin mereka terjebak dalam gaya hidup komsumtif.

Bayang bayang akan terlihat bagus jika dia proporsional dengan badan. Jika ia lebih tinggi atau lebih pendek maka tak ada keindahan disana

1bayangbayang-764932

Padang/Tanjungbalai Karimun

5 comments

  1. Om Hilman Satria camkohaa (cap jempol 3 buah). Suka bacanya….sebagai pengingat diri. Terima kasih om…. ditunggu karya2 berikutnya.

  2. Sangat menginspirasi tulisannyo bagi kami nan masih mudo ko om jie Hilman Satria…. semoga masih ado kesempatan bagi kami untuk mempersiapkn diri disaat kami sudah tidak produktif lagi….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *