Berkunjung ke Tarempa, Kabupaten Anambas

Facebooktwittermail

mi-tarempaPernah mencicipi mie Tarempa dan luti gendang, atau mendengar tentangnya? Mie Tarempa adalah olahan mie goreng khas dari Tarempa. Kekhasannya terletak dari racikan bumbunya yang menggunakan ikan tongkol. Sementara luti gendang adalah peganan berupa donat kentang yang berisi abon atau irisan ikan tongkol. Rasa pedas khas Kepulauan Riau menjadi pelangkap nikmatnya mie Tarempa. Mungkin karena terletak di daerah kepulauan maka makanan disana selalu disertai ikan sebagai pelengkap utamanya.

anambasTerempa merupakan ibukota Kabupaten Anambas, sebuah kabupaten yang terdiri dari gugusan pulau di Laut Natuna dan Laut Cina Selatan. Sebelumnya masyarakat lebih mengenal daerah ini sebagai daerah Pulau Tujuh, sebagaimana pembagian wilayah kewedanaan pada masa kolonial Belanda. Pulau-pulau tersebut adalah Siantan, Jemaja, Midai, Serasan, Tambelan, Bungguran Barat dan Bungguran Timur. Tansportasi utama ke sana adalah ferry yang berangkat setiap dua hari dari Tanjungpinang, ibukota Propinsi Kepulauan Riau. Pada bulan-bulan tertentu kabupaten ini terisolir akibat cuaca dan gelombang laut yang tak bersahabat. Kabupaten Anambas sendiri adalah kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Natuna pada tahun 2008. Tarempa terletak di Pulau Siantan. Bagi saya pribadi Pulau Tujuh mempunyai kesan tersendiri saat bertugas di Tanjung Pinang. Seorang buruh di pelabuhan yang cukup akrab  dengan saya pernah menawarkan “perlindungan” dengan kepandaiannya sebagai seorang yang berasal dari Pulau Tujuh. Begitu juga saat kantor saya di demo oleh beberapa orang yang mengaku mahasiswa memaksa saya menyaksikan mereka melakukan ritual klenik dari Pulau Tujuh sebagai salah satu bentuk aksinya.

tugasSaya mengunjungi Tarempa pada pertengahan Oktober 2015 dalam rangka dinas ke Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Pratama Tarempa.

20151012_063646Pagi itu saya menumpang MV. Trans Nusantara dari Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang. Setelah tiket seharga Rp. 450.000 (sekali jalan) ditangan maka logistik selama diperjalanan menjadi perhatian selanjutnya. Bagaimana tidak, perjalanan diperkirakan akan memakan waktu lebih kurang 10 jam.  Penumpang sangat ramai hari itu. Lorong dan ruangan kosong penuh oleh penumpang yang menggelar tikar di lantai.  Mungkin karena waktu itu sudah menjelang musim angin barat sehingga banyak penduduk Anambas yang bepergian ke Batam dan Tanjungpinang harus segera kembali ke kampungnya  jika tidak ingin terhalang oleh angin dan gelombang besar. Saya beruntung selama perjalanan pergi dan pulang cuaca bersahabat sehingga saya dapat menikmati perjalanan. Bagi orang-orang yang biasa berpergian dengan menggunakan sarana transportasi laut maka kondisi seperti itu ibarat naik kapal yang berlayar di atas kaca. Namun debar jantung di dada tetap tak bisa tertahankan karena perjalanan naik kapal laut kali ini berlainan dengan naik kapal yang pernah saya alami. Saat bolak-balik naik kapal Pelni dari Padang ke Jakarta dulu atau naik kapal patroli sepanjang Selat Malaka saya masih melihat daratan dari salah satu sisi kapal sehingga jika ada musibah masih besar harapan datangnya pertolongan yang cepat. Sementara perjalanan menuju Tarempa adalah perjalanan dimana sejauh mata memandang yang tampak hanyalah lautan tak bertepi .

Setelah berlayar selama sembilan jam sampailah saya diperhentian satu-satunya sebelum sampai ke Tarempa, Pelabuhan Letung di Pulau Jemaja. Penumpang turun dan naik, begitu juga para penjaja makanan dan minuman yang menawarkan dagangannya. Dan saya membeli cemilan kesukaan saya, kacang rebus. Suasana ini mengingatkan saya pada masa kecil saat saat bepergian dengan kereta api ke Padang atau ke Padangpanjang dari desa kelahiran saya di Lubukalung dimana tiap stasiun para pegadang berebut naik untuk menjajakan dagangannya. Kapal behenti lebih kurang tiga puluh menit disini.

img-20151012-wa0004Kapal berlabuh di Pelabuhan Tarempa saat matahari sudah digantikan bulan. Tiga jam perjalanan  dari Letung akhirnya saya bisa menjejakkan kaki di Tarempa. Hari itu saya berlayar dua belas jam dari Tanjungpinang. Rasa lelah yang mendera terhimpit oleh gairah yang timbul saat tiba pertama kalinya di suatu tempat. Setelah berbasa basi sejenak dengan kawan-kawan Bea Cukai Tarempa yang menuggu saya berisitrahat di Tropical Inn, kamar saya selama beberapa hari kedepan. Tropical Inn adalah salah satu penginapan dari sedikit yang tersedia di sana dan terletak di jalan utama di depan pelabuhan. Merupakan ruko tiga lantai yang jadikan penginapan, losmen ini cukup nyaman dan bersih untuk ditempati serta bersahabat dengan kantong backpacker.

Kota Tarempa terletak di sedikit dataran yang ada di sekitar Teluk Siantan di pulau yang terdiri dari perbukitan batu granit. Tak heran banyak bangunan permanen yang terletak di atas laut. Jalan utamanya hanya cukup untuk berpapasan dua mobil kecil. Motor roda dua merupakan kendaraan utama disini sementara jumlah mobil bisa dihitung dengan jari. Walau disini ada beberapa sekolah menengah atas atau yang sederajat banyak juga anak-anak Siantan yang bersekolah di Pulau Matak yang harus ditempuh kurang lebih setengah jam naik speed boat dari Tarempa sebagaimana yang saya saksikan hari itu.

2015-10-13-05-33-23Pagi di Tarempa memberi kejutan tersendiri. Dalam perjalanan kembali ke penginapan selepas shalat Subuh di mesjid saya takjub melihat kedai-kedai kopi sudah penuh dengan orang-orangyang sedang memulai hari dengan bersosialisasi. Dan itu berlansung sampai matahari cukup tinggi. Mungkin karena sebagian besar penduduk Tarempa berprofesi sebagai nelayan dan pedangang membuat mereka tak begitu terikat dengan waktu. Mie Tarempa, luti gendang dan secangkir teh O menjadi sarapan pagi saya bersama teman-teman. Entah tersugesti oleh ucapan teman-teman, mie yang saya makan di warung yang terletak persis di depan pasar ikan Siantan pagi itu luar biasa enak. Mienya begitu segar karena tak memakai bahan pengawet sebagaimana yang dikatakan si penjual.

20151014_093245Selesai menunaikan pekerjaan di Kantor Bea Cukai Tarempa saya memulai perjalanan menikmati keindahan Anambas keesokan harinya. Dengan menyewa sebuah speed boat saya dan teman-teman menuju Air Terjun Temburun. Air terjun ini masih terletak di Pulau Siantan namun karena infrastruktur jalan masih belum memadai maka cara yang paling mudah mencapainya adalah melalui laut. Perjalanan kesana memakan waktu sekitar setengah jam. Dari dermaga kami berjalan kaki sejauh 500 meter sebelum melakukan pendakian dengan kemiringan 45 derajat untuk mencapai air terjun yang terletak di ketinggian 200 meter diatas permukaan laut. Rasa lelah tergantikan dengan keindahan pemandangan disana. Begitu juga pemandangan ke arah laut. Mandi dengan kesegaran Air Terjun Timbulun adalah sesuatu yang harus dilakukanjika anda melancong ke Tarempa.

20151014_115519Puas bermain air perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Matak, juga sekitar tiga puluh menit perjalanan dari lokasi Air Terjun Timbulun, untuk makan siang. Tujuannya adalah tempat budi daya ikan laut milik Pak Dodo. Pak Dodo terkenal akan masakannya berupa asam pedas kerapu dan napoleon tim hong kong. Duduk ditengah -tengah hamparan keramba apung sambil menunggu masakan terhidang saya berbual dengan Pak Dodo tentang suka dukanya sebagai petani ikan termasuk pendangannya tentang kebijakan Menteri 20151014_120736Kelautan dan Perikanan, Bu Susi, yang sedang hangat-hangatnya dilaksanakan. Pembicaraan yang diselingi berkeliling keramba untuk melihat jenis-jenis ikan yang dibudi dayakannya itu menambah wawasan saya. Sayang lidah Padang saya tidak bisa diajak kompromi dengan masakan Pak Dodo sehingga saya tak dapat menikmatinya sebagai mana kawan-kawan yang dengan lahap menghabiskan hidangan yang tersedia.

Snorkeling yang rencananya dilakukan setelah makan siang terpaksa tak jadi dilakukan karena cuaca tiba-tiba berubah. Dengan menerobos hujan dan angin kencang yang agak mereda kami memutuskan untuk kembali ke Tarempa karena besok paginya saya harus kembali ke Tanjungpinang. Rasa was-was memenuhi pikiran saya karena speed boat itu tidak dilengkapi pelampung. Ingat, saat itu saya berada di Laut China Selatan!

Perjalanan ke Tarempa ini makin menambah titik terluar Republik Indonesia yang saya kunjungi setelah sebelumnya ke Skow di perbatasan dengan Papua New Guinea dan Sabang di Naggroe Aceh Darussalam.

20151014_09532420151014_11025920151014_10295920151014_104937

2015-10-14-18-16-32

20151014_103354

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *