(Dibalik) Porprov Sumbar 2016

Facebooktwittermail

Saat pulang minggu ini saya mendapatkan anak saya yang nomor tiga, N, sedang libur sekolah karena gedung sekolahnya dipakai sebagai tempat penginapan atlet-atlet yang sedang berlaga di Pekan Olah Raga Provinsi Sumbar 2016. Dia libur selama sepuluh hari!

Padang sejak tanggal 19 November kemaren hingga tanggal 29 November menjadi tuan rumah Porprov Sumbar 2016. Melibatkan 8606 peserta yang terdiri dari atlet, pelatih, dan ofisial dari 33 cabang olah raga, pekan olah raga yang memperebutkan 1.408 medali emas ini menghabiskan dana kurang lebih 58 miliar rupiah. Sebagai seorang warga Kota Padang tentu saya mengharapkan pekan olah raga ini berlangsung dengan sukses dan berhasil menciptakan atlet-atlet berprestasi yang akan mengharumkan nama daerah di tingkat nasional maupun internasional.

Namun dibalik itu ada beberapa hal yang mengganjal dalam benak saya. Yang pertama tentu yang terkait dengan liburnya anak saya selama sepuluh hari. Ada 10 SMA/SMK, 12 SMP dan 8 SD yang diliburkan selama pekan olah raga ini. Walau sudah dialas dengan argumen bahwa siswa-siswa sekolah-sekolah tersebut tidak libur tapi belajar di rumah tetap waktunya tidak pas karena beberapa hari setelah libur tersebut mereka akan menghadapi ujian semester. Bukankah di Padang banyak hotel-hotel yang bisa diajak baiyo sebagai bentuk coorporate social responsibility-nya sebagai misal atau menggunakan paket meeting full board yang relatif murah tarifnya. Atau penggunaan Asrama Haji, asrama Batalion 133, asrama Sekolah Polisi Negara. Bukankan pemerintah daerah juga punya asrama di pusat pendidikan kepegawaiannya.

Selain itu, pemilihan gedung sekolah sebagai tempat penginapan anggota kontingen menggambarkan buruknya perencanaan penyelenggaraan kegiatan ini. Jika anggaran yang menjadi alasan tentu patut dipertanyakan bagaimana Pemko Padang merancangnya sejak Kota Padang ditetapkan sebagai penyelenggara. Termasuk menghitung risiko seandainya di tengah jalan ada pemotongan anggaran berikut jalan keluarnya. Apakah dalam bentuk mengurangi jumlah cabang olah raga yang dipertandingkan dengan memprioritaskan cabang-cabang  yang potensial dalam mencetak atlet untuk level nasional atau di cabang-cabang yang menjadi cabang utama di tingkat olimpiade. Atau segera menghentikan fasilitas akomodasi dan transportasi bagi atlet-atlet yang gagal melanjutkan pertandingan ke tingkat berikutnya. Itu jika penyelenggaraannya murni menggunakan anggaran pemerintah.

Kemudian buruknya sosialisasi dan koordinasi juga membayangi pekan olah raga ini. Media-media lokal yang saya baca umumnya mengingatkan penyelengara akan kurangnya sosialisasi kepada masyarakat sehingga terasa kegiatan ini kurang greget. Jangankan masyarakat, panitia sendiri pun tak tahu dimana lokasi pertandingan. Seorang teman yang bersinggungan langsung dengan pekan olah raga ini sampai geleng-geleng kepala ketika bertanya kepada seorang panitia suatu cabang olah raga outdoor tentang lokasi persis pertandingan olah raga tersebut. Panitia yang ditanya tidak bisa menjawab dengan pasti arena pertandingan yang menjadi tanggung jawabnya. Koordinasi-pun demikian. Seorang petugas keamanan yang sempat berbincang-bincang dengan saya mengeluhkan buruknya sosialisasi dan koordinasi ini. Petugas hanya diminta bantuan pengamanan untuk upacara pembukaan saja, itupun hanyak sebanyak 20 petugas. Padang memang kota yang relatif aman tapi hanya meminta  20 tenaga pengamanan untuk acara yang melibatkan kurang lebih 10.000 orang tentu sesuatu yang riskan. Tak heran buruknya sosialisasi dan koordinasi ini telah meminta korban. Sebuah cabang olah raga outdoor tidak dapat berlangsung sesuai yang dijadwalkan karena masyarakat setempat menolak penyelenggaraan di daerah mereka karena kurangnya komunikasi.

Malas saya untuk bercerita tentang  beberapa cabang yang dipertandingkan dalam Pekan Olah Raga Provinsi Sumbar kali ini. Saya hanya berharap di pekan olah raga provinsi berikutnya buru babi jangan sampai dipertandingkan pula.

Semoga pekan olah raga propinsi selanjutnya lebih baik tidak hanya dari segi penyelenggaraan tetapi juga menjadi ajang unjuk prestasi level nasional atlet-atlet daerah. Selamat bertanding!

Air Tawar 20/11/2016

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *