In Memoriam Mama (Jurni bt. Buyuang Adiak Dt. Muncak)

Facebooktwittermail

Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Hari ini tepat 11 hari Mama meninggalkan kami selama-lamanya. Tanggal 1 Syawal 1438 H (25 Juni 2017), di hari yang fitri, Mama menghadap Sang Khalik setelah dirawat selama 11 hari di RS Yos Sudarso Padang karena penyempitan saluran pernapasan. Mama meninggal setelah 24 hari merayakan ulang tahunnya yang ke-75.

Terlahir dari pasangan Buyuang Adiak Datuk Muncak dan Zuraidar pada tanggal 1 Juni 1942 di Paritmalintang, Kecamatan 2 x 11 Enam Lingkung Padang Pariaman, Mama memiliki tiga orang adik yang semuanya perempuan. Adiknya yang pertama meninggal pada tanggal 1 Syawal juga dua tahun yang lalu. Mama merupakan tamatan Sekolah Guru Atas (SPG sekarang) Padangpanjang. Karirnya sebagai guru dimulai di SMP Negeri Lubukalung Kabupaten Padang Pariaman. Kenangan yang saya ingat berdasarkan cerita Mama dan bekas murid-muridnya adalah saat Mama mengasuh saya yang masih balita sambil mengajar di kelas. Bermodalkan jagung rebus kesukaan saya dengan anteng duduk di kursi guru sampai Mama selesai mengajar. Kemudian di tahun 1977 Mama menjadi guru di SMP Negeri 7 Padang karena kami pindah ke Padang setelah Papa mendapatkan rumah dinas sebagai dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Walau saya menjadi murid di tempat Mama mengajar namun Mama tak pernah menjadi guru saya di kelas. Mama setiap tahun ajaran baru selalu menghadap Kepala Sekolah untuk meminta supaya dia tidak mengajar di kelas saya. Mungkin itu cara Mama untuk menjauh dari konflik kepentingan. Mama memilih untuk pensiun dini sebagai guru setelah adik saya berumah tangga dan saya telah memiliki pekerjaan. Alasannya karena tidak tahan dengan perangai murid-muridnya sekarang yang berbeda jauh dengan jaman saya saat masih SMP dulu dimana guru itu sangat dihormati dan disegani.

Mama menikah dengan Papa pada tanggal 22 Desember 1965 sehingga mudah bagi saya untuk mengingat tanggal tersebut untuk menyampaikan ucapan selamat kepada Mama dan Papa karena bertepatan dengan perayaan Hari Ibu. Dari pernikahan tersebut lahirlah Eka Yudanoveri, saya (Hilman Satria) dan Zilfa Sismelia. Sayang kakak saya hanya berumur 3 bulan. Saya merupakan perpaduan karakter Mama yang perasa dan Papa yang rasional. Kedua karakter itu saling mendominasi dalam diri saya sehingga saya sendiri sering bingung kalau tiba-tiba saya sangat rasional dan raja tega namun pada kali yang lain saya sangat perasa.  Mama sangat memperhatikan Papa. Boleh dikatakan Mama tak pernah meninggalkan Papa lebih dari seminggu, itupun setelah yakin kebutuhan makanan Papa telah terjamin selama dia pergi. Waktu dirawat di rumah sakitpun Mama tak henti-hentinya bertanya tentang ketersediaan makanan Papa kepada saudara yang datang menolong atau kepada isteri saya.

Mamalah yang mengajari saya bagaimana mengelola uang. Sejak kelas 5 SD saya telah diajari Mama untuk mengatur belanja mingguan. Jangan harap saya bisa mendapat tambahan belanja dari Mama jika belanja mingguan saya telah habis sebelum waktunya. Biasanya saya meminta secara sembunyi-sembunyi kepada Papa. Tak heran jika pada masa-masa awal berumah tangga saya mengajari isteri untuk mengatur uang belanja rumah tangga seperti yang saya tiru dari Mama, dengan mengelompokkannya pada masing-masing amplop sesuai jenis pengeluarannya. Mama sangat memperhatikan perkembangan jiwa saya. Saat saya meningkat remaja Mama secara diam-diam menyembunyikan lidi yang biasa dipakai Papa untuk menghukum saya jika melanggar aturan. Itu dilakukan Mama setelah melihat saya menyembunyikan lidi tersebut saat saya selesai mendapat hukuman Papa dan Mama membicarakannya ke Papa sehingga sejak saat itu Papa tidak pernah lagi menghukum saya dengan cara yang keras.

Mama sangat siap dunia akhirat dalam menyongsong kematiannya. Sudah sangat lama Mama membekali dirinya dengan kegiatan keagamaan. Bahkan salah satu hal pertama yang dilakukan Mama saat kembali dari tak sadarkan diri selama beberapa jam adalah meminta kami untuk menyalurkan zakat dan fidyahnya. Mama menolak saat saya berjanji akan menyelesaikannya. Mama ingin dilakukan saat itu juga. Walau sudah beberapa tahun belakangan Mama menyinggung kematiannya saya baru secara serius menanggapinya sekitar setahun yang lalu. Saat itu Mama menyampaikan keinginan-keinginannya jika ajal telah menjemput. Mulai dari penyelenggaraan jenazah yang harus disegerakan sampai dengan kain kapan dan kain perlengkapan mandi yang telah disiapkannya. Mulai dari harta warisan keluarga besar di kampung sampai sedikit peninggalan Mama untuk anak-anak dan cucu-cucunya.

***

Lebaran 2016

Air mata Mama terbercak saat saya pamit untuk mengikuti pendidikan di LAN Samarinda seminggu menjelang Ramadhan kemaren dan akan pulang dua hari menjelang Idul Fitri. Terucap oleh Mama permintaan maaf atas kesalahannya selama ini dan kekurang sempurnaannya sebagai orang tua dalam membesarkan anak. Mama merasa tidak akan berjumpa lagi dengan saya. Saat itu kondisi kesehatannya menurun lagi. Dua tahun belakangan ini kondisi kesehatan Mama memang naik turun sehingga sering dirawat di rumah sakit. Waktu saya singgung untuk dirawat di rumah sakit lagi Mama seperti biasanya menjawab kalau ada kerabat yang bisa menemaninya di rumah sakit. Inilah kendala utama kami jika Mama sakit. Dua orang anaknya berada di jauh rantau sementara istri saya yang sehari-hari berdomisili di Padang tidak mungkin menemaninya full time karena pekerjaan dan mengurus anak-anak.  Mama tak ingin sendirian di rumah sakit dan ia punya alasan tersendiri untuk itu. Ia ingin ada yang membisikkan kalimat tauhid saat ia sakratul maut. Hal ini saya baru ketahui saat dihubungi famili yang mengabarkan kondisi Mama yang untuk pertama kalinya tak sadarkan diri. Dokter  meminta persetujuan keluarga untuk dipindahkan ke ICU. Papa menolak karena Mama sudah berpesan sebelumnya walau bagaimana buruk kondisi kesehatannya ia jangan dipindahkan ke ICU karena kalau di ICU hanya satu orang yang boleh menemani.

Mama sangat gembira dan terlihat lebih sehat saat saya dan keluarga mengantar pabukoan dan berbuka bersama di awal Juni itu. Mama membuatkan makanan kesukaan saya, anyang kentang. Kepulangan yang diluar rencana itu terlaksana karena penyelenggara diklat bersedia memajukan jadwal yang berada di harpitnas sehingga peserta memiliki hari libur yang lebih panjang. Dua minggu kemudian saya mendapat kabar bahwa Mama dirawat di rumah sakit dengan kondisi yang mengkhawatirkan.

Pagi itu di Jum’at terakhir Ramadhan saya mendapat kabar bahwa Mama sudah tak sadarkan diri. Kabar yang saya dapat  menjelang take off  dari BalikPapan itu membuat perjalanan ke Padang terasa menjadi lebih panjang. Kabar gembira bahwa Mama sudah sadarkan diri saya terima saat mendarat di Soekarno-Hatta. Jarum jam masih menunjukkan pukul 07.30 WIB saat itu. Jadwal keberangkatan yang pukul 10.30 dan telepon dari sanak famili yang menyarankan untuk pindah ke penerbangan yang lebih awal membuat waktu terasa berjalan sangat lambat.

Selang infus, selang sonde makanan serta alat bantu pernapasan yang terpasang di badan Mama menyambut saya sesampainya di ruang Sudirman 7 RS. Yos Sudarso. Mama sedang lelap waktu itu. Binar kebahagiaan saya lihat dari Mama Mama saat mengetahui saya telah sampai. Mama masih bisa berkomunikasi dan bercanda dengan sanak saudara, karib kerabat dan handai taulan yang membezuknya. Senja itu kebahagian Mama semakin bertambah saat adik saya sampai dari Jakarta. Malam itu Mama memanggil Papa, saya dan adik dan menyampaikan lagi pesan-pesannya saat tamu sudah pulang. Itulah pembicaraan terakhir kami dengan Mama!

Paginya kondisi Mama makin menurun. Mama sudah tidak bisa berkomunikasi lagi tapi masih bisa merespon apa yang kami bicarakan dengannya. Terasa ada yang menahan saya saat akan pulang ke rumah di malam takbiran itu. Banyak kejadian dimana orang meninggal tak lama setelah kondisinya membaik serta adik Mama yang meninggal pada 1 Syawal juga menambah keengganan saya untuk pulang. Saya memutuskan untuk tidur di rumah sakit malam itu bersama adik saya Lusi dan Eli, yang yang sehari-harinya menolong Mama di rumah.

Dini hari kondisi Mama makin buruk. Mama kembali tak sadarkan diri.  Kamar Mama kembali ramai oleh kedatangan Papa, kakak-kakak dan adik ipar berserta anak-anaknya dan beberapa orang saudara yang selesai melaksanakan shalat Idul Fitri. Kami semua mengucapkan selamat Idul Fitri ke Mama. Dokter kembali menyarankan untuk dibawa ke ruang ICU yang juga kami tolak kembali. Pihak rumah sakit kemudian menempatkan alat pacu jantung di kamar Mama, alat yang tak sempat digunakan. Pukul 11.20 Mama menghembuskan nafas terakhirnya. Kami semua menyaksikan bagaimana Mama dalam keadaan sakratul maut yang berlangsung dengan cepat.  Alhamdulillah, keinginan Mama untuk tidak sendiri dan banyak yang menuntun dia mengucapkan kalimat tauhid saat sakratul maut kesampian. Saya lihat wajah Mama teduh dan tersenyum.

Saya sangat ikhlas melepas kepergian Mama. Selain melihat persiapan Mama yang begitu baik untuk menghadap Sang Khalik juga karena permintaan Mama dalam penyegeraan penyelenggaraan jenazahnya dapat kami laksanakan. Banyak tanda-tanda baik saya rasakan. Pihak rumah sakit sangat membantu dengan selesainya semua urusan administrasi dalam waktu 30 menit walau ada SOP mereka harus menunggu 2 jam sejak pasien dinyatakan meninggal. Petugas Kongsi Kematian Komplek ada yang tidak pulang kampung di Hari Lebaran sehingga ada yang menuntun saat jenazah Mama dimandikan. Azan Ashar berkumandang saat jenanzah Mama dibawa ke mesjid untuk dishalatkan, persis seperti kebiasaan Mama  yang segera ke mesjid saat mendengar azan berkumandang. Semua mengalir begitu saja. Kemudian cukup banyak yang ikut shalat jenazah Mama. Sore itu jenazah Mama selesai dimakamkan di pandam perkuburan keluarga di Parikmalintang, berdekatan dengan kuburan Amak dan Uni Eka.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Mama, melapangkan dan menerangi kuburnya, menerima semua amal ibadahnya dan menjauhkannya dari api neraka. Semoga surga Allah menanti Mama. Aamiin. Alfatihah.

6 comments

  1. Subhanallah Il, terharu dan bahagia membacanya, terbayang begitu dekatnya mama dengan anak2 dan keluarganya. Semoga Allah mengampuni semua dosanya, menempatkan beliau ditempat yg terbaik disisi Allah dan memberikan pelajaran dan kesabaran bagi kita semua. Aminn yra

  2. اللهم غفر لها ورحمها وعافية وعفو عنها
    Beliau orang tua terbaik kita,
    InsyaAllah husnul khatimah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *