Inovasi atau Mati

Facebooktwittermail

Dua tahun terakhir ini saya berulang kali menerima postingan kawan-kawan tentang pentingnya inovasi untuk tetap bertahan atau bahkan memimpin dalam persaingan. Contoh yang disampaikan adalah banyak merek besar dan terkenal pada zamannya mati karena terlena akan kesuksesan saat itu sehingga terlambat mengantisipasi perubahan sesuai perkembangan zaman.

Salah satu hasil inovasi yang sangat saya nikmati belakangan ini adalah transportasi berbasis online saat berkunjung ke kota-kota besar. Jakarta yang biasanya tidak bisa saya nikmati sekarang terasa jauh lebih nyaman. Bukan hanya karena Ahok berhasil membuat Jakarta lebih kinclong tapi juga karena adanya pilihan sarana transportasi berbasis online. Dari genggaman tangan kita begitu mudah untuk memesan sarana yang dibutuhkan. Jika waktu yang menjadi pertimbangan perjalanan maka ojek online menjadi pilihan utama untuk menembus kemacetan Jakarta. Kalau kenyamanan yang menjadi prasyarat maka taxi online-lah pilihannya. Ketersediaan sarananya juga sangat bagus sehingga pelanggan tak perlu berlama-lama menunggu. Hanya dalam hitungan menit. Saya masih ingat masa taksi online belum tersedia dimana kita sering harus menunggu sampai sejam taksi pesanan datang menjemput. Itupun setelah berulang kali menelpon call center-nya. Lebih dari itu, penyedia jasa transport berbasis online terus mengembangkan jenis layanannya. Yang sudah saya rasakan adalah jasa layan antar makanan dimana saya tak perlu lagi repot-repot untuk mendatangi restoran untuk membeli makanan yang diinginkan. Tak heran jika transportasi online menjadi primadona saat ini karena pengguna jasa begitu diuntungkan. Nyaman, mudah dan murah.

Seperti biasanya pemerintah sebagai regulator selalu terlambat mengantisipasi perubahan jaman. Perkembangan jasa tranportasi online yang luar biasa cepatnya membawa ancaman bagi perusahaan jasa transportasi konvensional. Permasalahan utama yang menjadi perhatian adalah persaingan usaha yang tidak adil. Perusahaan jasa transportasi konvensional terikat oleh perijinan dan hal lainnya seperti kewajiban membayar pajak. Dilain pihak jasa transportasi online sedikit agak unik. Penyedia konten layanan online berdalih mereka bukan perusahaan jasa transportasi, tidak mengambil keuntungan dari jasa transportasi tersebut sehingga merasa tak perlu mengurus perijinan transportasi. Sementara pengemudi/pemilik mobil tidak memiliki ijin untuk menyediakan layanan transportasi umum. Apapun kondisinya pemerintah harus melindungi perusahaan jasa transportasi konvensional untuk menjamin kepastian berusaha. Namun pemerintah wajib pula mengakomodir perkembangan zaman.

Di dalam pemerintahan sendiri inovasi juga sudah menjadi perhatian utama. Di kementerian tempat saya bekerja inovasi sudah menjadi sebuah keharusan. Dalam tiap lomba kantor yang rutin diadakan tiap tahun sejak sepuluh tahun belakangan ini, inovasi yang dilakukan baik yang bermuara kepada aspek regulasi maupun yang bermuara kepada pelayanan masyarakat menjadi penilaian utama. Begitu juga dalam kursus-kursus kepemimpinan yang diadakan lembaga-lembaga pendidikan pemerintah, inovasi sudah menjadi salah satu topik. Namun sayang, dalam penyelenggaraannya kursus-kursus kepemimpinan ini widyaiswaranya masih lebih banyak membicarakan teori-teori kepemimpinan menurut si A sampai si Z. Mungkin karena saya tidak berlatar belakang pendidikan formal tentang manajemen saya sering bertanya dalam hati apakah widyaiswara tersebut paham esensi teori yang diajarkannya, hahahaha. Alangkah bagusnya jika dalam kursus-kursus kepemimpinan yang diadakan lembaga pendidikan pemerintahan itu lebih banyak diisi oleh para pelaku yang berhasil mengembangkan organisasinya berdasarkan inovasi-inovasi yang dibuatnya atau oleh konsultan-konsultan profesional di bidangnya masing-masing. Saya yakin wawasan para birokrat negeri ini akan lebih terbuka lebar untuk mewujudkan Indonesia sebagaimana yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945.

Betul ada kendala utama yang dihadapi birokrat dalam berinovasi yaitu peraturan perundangan yang membuat mereka tidak selincah swasta dalam berinovasi. Namun bukankah peraturan perundangan itu juga sebuah produk seperti yang disampaikan salah seorang pembicara dalam kursus kepemimpinan yang sedang saya ikuti: “Jangan takut ide-ide anda terhalang oleh peraturan, kalau perlu undang-undangnya kita rubah!”

Gegerkalong dipagi 12 Agustus 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *