Joe!

Facebooktwittermail

Joe…Joe Hill! (harap dibaca dengan gaya James Bond saat memperkenalkan diri). Itulah identitas yang selalu saya gunakan dikalangan teman-teman saat ini.

Awal mula saya menggunakan identitas ini adalah saat kuliah di Jepang dari tahun 2000-2002 yang lalu. Itu kali pertama saya akrab dengan email. Baik sebagai sarana komunikasi intra kampus maupun sarana komunikasi  dengan keluarga di Padang. Selain akun resmi dari kampus saya juga membuat akun pribadi gratisan. Nah untuk akun gratisan ini saya ingin akun yang gampang saya ingat, mengingatkan ke kampung halaman, tidak menggunakan nama asli tapi identitas saya pribadi tetap ada walau hanya saya dan keluarga yang memahaminya. Identitas yang saya pakai adalah joesiddi @×××.com (husss, itu bukan email dari situs porno…ngeres aja ente. xxx itu hanya untuk menyamarkan providernya aja). Joe dari ajo dan siddi dari gelar saya sidi. Dimodif biar keren dikitlah.

Ketertarikan menggunakan identitas joesiddi ini timbul pada suatu ketika saat oom saya Sjamsir Alam bercerita bahwa dia pernah disindir orang sewarung. Penyebabnya adalah karena dia belum memahami  benar adat yang berlaku di kampung saya, Pariaman. Dia yang berasal dari Bukittinggi ini berniat sopan dengan menyapa orang-orang di warung dengan panggilan ajo yang artinya sama dengan uda dalam bahasa Minangkabau umumnya. Saat itu ada yang merasa dilecehkan karena disapa dengan ajo. Selidik punya selidik ternyata dia tersinggung karena dia merasa tidak pantas disapa dengan ajo. Barulah saat itu saya tahu bahwa tidak semua orang Pariaman boleh dipanggil dengan ajo. Ajo hanya boleh dipanggilkan kepada laki-laki dewasa yang berasal dari garis keturunan bapak bergelar sidi atau bagindo, “kasta” tertinggi dalam tatanan masyarakat Pariaman.

Di Minangkabau, seorang laki-laki itu ketek banamo gadang bagala. Saat kecil dipanggil nama ketika besar dipanggil gelar. Pembeda ketek-gadang itu adalah pernikahan. Gelar ini turun temurun dari garis ayah dan wajib dipanggilkan oleh keluarga istri. Itu pula yang diiingatkan mama kepada istri saya menjelang nikah dulu agar dia menyapa saya dengan ajo sebagai pengganti panggilan uda yang biasa digunakan saat kami masih pacaran. Rupanya mama saya teringat kejadian dia diprotes oleh adik papa sesaat setelah menikah dulu. Rupanya dia mendengar mama menyapa papa dengan uda. “Masa ajo awak dipanggil uda.”

Sebagaimana saya sebut diatas, panggilan ajo itu kemudian saya modifikasi menjadi joe. Identitas joesiddi kemudian saya ganti menjadi Joe Hill yang saya ambil dari nama resmi agar kawan-kawan bisa langsung mengenali saya. Joe Hill sampai sekarang menjadi identitas non formil saya dikalangan teman-teman. Entah karena nama itu sangat populer dikalangan teman-teman, seorang penyanyi Amerika terinspirasi untuk menggunakan julukan saya itu untuk namanya. Mungkin dia ingin seterkenal saya, dan nyatanya ia sangat terkenal sekarang. Eh…

Jogjakarta/Grand Quality

 tulisan ini terinspirasi setelah membaca komen seorang sahabat di blog ini yang menyapa saya dengan Joe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *