Marhaban, Ya Ramadhan!

Facebooktwittermail

Ramadhan datang lagi. Bulan yang penuh ampunan dan penuh rahmat ini selalu disambut umat Islam dengan penuh sukacita.

Sebagaimana sebelumnya saya lebih banyak melewatkan Ramadhan seorang diri, jauh dari anak isteri. Tuntutan pekerjaan dan pilihan yang ada membuat kami harus bersahabat dengan keadaan. Biasanya saya selalu berusaha untuk bisa sahur dan berbuka hari pertama puasa bersama anak isteri namun hari pertama puasa tahun ini kami hanya bisa melakukan sahur bersama.

Karena sering berpuasa di berbagai daerah, saya merasakan adanya perbedaan rasa saat berpuasa di kampung halaman di Sumatera Barat dengan saat berpuasa di luar Sumatera Barat. Di kampung halaman, waktu terasa berjalan lambat saat Ramadhan. Denyut kehidupan baru terasa saat posisi matahari sudah tinggi. Sebelumnya, jalanan sepi dari kendaraan. Warga lebih banyak istirahat di rumah sekembalinya dari shalat Subuh di mesjid. Mungkin karena masih mengantuk setelah melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan pada malam sebelumnya atau mungkin untuk menghindari hal-hal yang bisa membatalkan atau mengurangi pahala berpuasa. Wallahualam.

Datangnya Ramadhan juga ditandai dengan tutupnya sebahagian besar toko, warung, rumah makan dan restoran sehari sebelum puasa dimulai. Ada tradisi balimau bagi kebanyakan warga di Sumatera Barat selain ziarah kubur atau doa bersama keluarga besar dalam rangka menyambut Ramadhan tentunya. Sebahagian besar rumah makan dan restoran bahkan tutup selama Ramadhan sehingga orang-orang yang tidak berpuasa akan kesulitan untuk makan siang.

Lain halnya jika berpuasa di rantau, apalagi jika berada di kota yang masyarakatnya heterogen atau umat muslim merupakan minoritas disana. Kehidupan berjalan seperti biasanya dan sudah pasti godaan yang dapat membatalkan puasa juga lebih banyak, setidak-tidaknya dari mudahnya untuk mendapatkan makanan disiang hari

Namun disinilah saya sering merasakan nikmatnya berpuasa. Saat bisa menekan hawa nafsu dari godaan yang ada di depan mata. Ada rasa kemenangan disana.

Puasa bagi saya juga menimbulkan rasa tolerasi terhadap umat beragama lainnya. Jika banyak yang menghimbau agar orang-orang non muslim menghormati orang-orang muslim yang berpuasa dengan cara makan di tempat tertutup atau menjaga kesusilaan sesuai standar yang ada dalam Islam, saya malah bersiksp sebaliknya. Mengapa bukan kita yang menghormati mereka karena memang begitulah kepercayaan mereka. Bukankah Ramadhan salah satu bentuk ujian keimanan kita kepada Allah subhana wata’ala?

Selamat datang Ramadhan 1437 Hijriah¬† Semoga di bulan yang penuh ampunan ini segala rahmat Allah subhana wata’ala terlimpah bagi kita semua. Amin.

Selat Malaka/Oceana 15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *