Melancong ke Belitong

Facebooktwittermail

Melancong ke Belitung sudah lama menjadi keinginan kami sekeluarga. Belitung menjadi salah satu destinasi wisata terkenal setelah terbitnya novel dan film Laskar Pelangi. Kesempatan itu baru kami dapatkan pada liburan akhir tahun 2015 kemaren.

Mengunjungi Belitung bagi kami yang berdomisili di Padang sedikit merepotkan karena tidak ada penerbangan langsung dari Padang ke Tanjungpandan, ibukota Kabupaten Belitung. Akses yang paling mudah ke Belitung adalah melalui Jakarta.Untuk memaksimalkan waktu supaya langsung bisa berwisata pada hari kedatangan, kami memutuskan berangkat sore hari dari Padang dan bermalam di salah satu hotel budget sekitar Bandara Soekarno-Hatta agar dapat terbang dengan penerbangan pertama ke Tanjungpandan keesokan harinya.

hanajuddin-belitungSetelah terbang kurang lebih satu jam, sekitar pukul 07.30 pagi kami sampai di Bandara Hanandjoeddin Tanjungpandan. Sarapan adalah hal pertama yang harus dilakukan karena sepotong roti serta segelas air dari maskapai penerbangan tidak cukup menjawab kebutuhan kami yang terbiasa sarapan berat. Kemana lagi kalau ke Belitung kalau tidak ke Warung Atep untuk mencicipi mie Belitungnya yang terkenal lezat. Warung yang terletak di jalan Sriwijaya nomor 27 ini sudah ramai pengunjung pagi itu. Selain rombongan wisatawan yang datang dengan bus wisata saya juga melihat beberapa orang yang satu pesawat dengan saya tadi. Saya yang selama ini tidak suka, lebih tepatnya menghindari, makan mie dengan berat hati mencoba mencicipinya. Ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang, mie Belitungnya Atep itu “enak bangat, gila!”mie-atep-belitong

Puas mencicipi mie Belitung kami check in ke Central City Hotel. Hotel yang terletak di jalan Veteran no. 7. Berjarak sepelemparan batu dari Warung Atep, hotel ini bertarif Rp. 350.000/malam, pas dengan kantong buruh pemerintah. Hotel budget yang akan menjadi rumah kami selama di Belitung ini sangat bersih dan nyaman. Ruangannya lebih besar daripada hotel-hotel budget yang memiliki jaringan nasional serta memiliki jaringan wifinya yang cepat.

Eh…ntar ya cerita jalan-jalannya. Saya mau cerita sedikit tentang kota Tanjungpandan dan Belitung. Terus terang saya kaget melihat suasana Kota Tanjungpandan dan Pulau Belitung. Apa yang selama ini saya bayangkan tentang daerah ini bertolak belakang dengan kenyataannya. Karena saya pernah dan sedang bertugas di salah satu kota kabupaten dan di ibukota propinsi Kepulauan Riau saya selalu membayangkan daerah di pulau-pulau pantai timur Sumatera tidak berbeda jauh dengan yang ada di Kepulauan Riau, dengan Batam sebagai pengecualiannya tentu. Yang selalu dalam pikiran saya adalah kota-kota yang terpusat di sekitar pelabuhan sehingga penuh sesak dan jalan-jalan yang sempit yang sebagian terpaksa dibuat satu arah karena separo badan jalan dipakai untuk perparkiran. Tanjungpandan dan Belitung memiliki jalan-jalan yang lebar dan mulus dengan penataan kota yang cukup bagus untuk sebuah kabupaten. Begitu juga dengan dasilitas penunjangnya.

 8e6f5e_d794d841b4e3408381794f896d907386mv2_d_2560_1440_s_2Kita lanjutkan cerita jalan-jalannya. Selesai meletakkan kopor di kamar dan rehat sejenak kami memulai pelancongan di Belitung. Ditemani “Inyiak Garmin” yang selalu menemani saya sebagai penunjuk jalan saat mengunjungi daerah-daerah baru kami menuju Pantai Tanjungkelayang yang berjarak kurang lebih 30 km dari Kota Tanjungpandan. Tanjungkelayang memiliki pantai dengan hamparan pasir yang landai dan panjang. Dari pantai ini kita bisa memandang Pulau Burung, sebuah pulau batu granit dimana salah satu batunya berbentuk kepala burtg-kelayang-belitongung. Tanjungkelayang merupakan tempat untuk memula wisata  islands hopping.

Puas bermain air dan berfoto ria kami kembali ke Tanjungpandan berhubung hari sudah sore dan hujan. Tak salah kalau banyak yang menjuluki Tanjungpandan itu kota 1000 kedai kopi. Di sekitar Pelabuhan Tanjungpandan saja berjejeran kedai-kedai kopi yang kalau dilihat dari papan namanya sudah berumur sekitar 40 tahunan, bahkan ada yang lebih tua dari itu. Sayang sekali karena tak satupun dari kami yang penikmat kopi sehingga salah satu jualan wisata di Belitung ini tidak kami nikmati. Pelabuhan Tanjungpandan adalah tujuan selanjutnya. Pelabuhan laut adalah salah satu tempat yang selalu saya kunjungi saat datang ke daerah baru. Sebenarnya bukan pelabuhannya yang saya tuju tapi kota tuanya yang biasanya terletak di sekitar pelabuhan. Disitu saya membayangkan sejarah dan peradaban kota tersebut dari bentuk bangunan yang ada.

 https://static.wixstatic.com/media/8e6f5e_01b41d295a534902b93e8c1dfc6f0ee8~mv2_d_2560_1440_s_2.jpg?dn=20151228_100343.jpg
Keesokan harinya kami ke Pantai Tanjungtinggi yang terkenal karena menjadi tempat bermainnya Ikal dan kawan-kawannya dalam film Laskar Pelangi. Ikon pantai yang indah ini  adalah batu-batu granit raksasa di pantai yang landai dan bening. Selain berfoto ria maka berenang diantara granit-granit raksasa adalah keharusan disini. Jangan takut, banyak tersedia kamar mandi untuk membilas badan disini. Puas main air di Tanjungtinggi, kami kembali ke Tanjungkelayang untuk makan siang sekaligus persiapan islands hopping. Ikan bakar dan cumi goreng yang segar hasil olahan warung penduduk sekitar menjadi menu kami siang itu.
https://static.wixstatic.com/media/8e6f5e_38b91a07626e4c849d26be070c9092b5~mv2_d_2560_1440_s_2.jpg?dn=20151228_100704.jpghttps://static.wixstatic.com/media/8e6f5e_3c7555a23f7e47398c593662cc59bbd0~mv2_d_2988_5312_s_4_2.jpg?dn=20151228_110043.jpghttps://static.wixstatic.com/media/8e6f5e_919f7aba6bf94056948a9f716e36d3a7~mv2_d_2988_5312_s_4_2.jpg?dn=20151228_101251.jpg

 

Islands hoping! Dengan menyewa perahu motor seharga Rp.400.000 kami memulai petualang di laut. Sayangnya sewa perahu belum termasuk pelampung (life jacket). Terpaksalah kami menyewa pelampung sebesar Rp. 20.000/buah. Wisata ini adalah mengunjungi pulau-pulau yang ada disekitar Tanjungkelayang yaitu Pulau Batu Berlayar,  Pulau Burung, Pulau Kepayang, Pulau Pasir dan Pulau Lengkuas.

https://static.wixstatic.com/media/8e6f5e_63e63522e820459386b550205b104d50~mv2_d_2560_1440_s_2.jpg?dn=20151228_145112.jpghttps://static.wixstatic.com/media/8e6f5e_018cad9c5ee14d1a84e405b7de8320db~mv2_d_2560_1440_s_2.jpg?dn=20151228_130322.jpg

 

 

 

 

Pulau-pulau tersebut umumnya berisi batu-batu granit walau ukurannya tak sebesar yang ada di Tanjungtinggi. Tujuan utama island hopping ini ada Pulau Lengkuas yang ditempuh kurang lebih selama 30 menit dari Tanjungkelayang. Pulau yang indah ini luasnya kurang lebih satu hektar. Disini menjulang tinggi sebuah mercusuar yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1882.

https://static.wixstatic.com/media/8e6f5e_8acfdb0cdbcd4db3b4b63e83fc31bb9c~mv2_d_2560_1440_s_2.jpg?dn=20151228_133345.jpg

https://static.wixstatic.com/media/8e6f5e_d5b9ae86813d44d4947b6b1509259793~mv2_d_2988_5312_s_4_2.jpg?dn=20151228_134128.jpg

 

https://static.wixstatic.com/media/8e6f5e_0a2959c9c04d4103a0d81bbc366c3b18~mv2_d_5312_2988_s_4_2.jpg?dn=20151228_135619.jpg

https://static.wixstatic.com/media/8e6f5e_086a57acc53a4b378fb28729cda93829~mv2_d_2560_1440_s_2.jpg?dn=20151228_135148.jpg

 

Setelah dua hari di Belitung tak mencicipi masakan Padang akhirnya lidah kami tak bisa diajak kompromi. Ini pulalah yang menjadi kelemahan kami jika berpegian ke daerah lain. Kami tidak bisa melakukan wisata kuliner untuk mencicipi masakan khas daerah tersebut. Padahal ucapan salah seorang dosen saya saat kuliah di Jepang dulu selalu terngiang: “Hilman, ayo coba. Salah satu cara mengenal budaya setempat  adalah dengan mencoba makanannya.” Hal itu dia utarakan ketika mengetahui saya tidak bisa memakan masakan Jepang. Setelah tanya sana sini akhirnya kami menemukan rumah makan Padang yang lamak bana. Sayang namanya sudah tidak ingat lagi. Lokasinya berada dekat lampu merah kedua setelah warung mie Belitung Atep.

https://static.wixstatic.com/media/8e6f5e_a6079675bc604efbaa51089a1e98b6a8~mv2_d_2560_1440_s_2.jpg?dn=20151229_105809.jpg

https://static.wixstatic.com/media/8e6f5e_d88c543ba2f94d1fb38f3163ba22f06f~mv2_d_2560_1440_s_2.jpg?dn=20151229_110802.jpg

 

 

 

 

 

Hari ketiga, Gantung dan Manggar. Jika dua hari sebelumya kami berkeliaran di Belitung bagian barat maka hari ini kami ke Belitung bagian timur. Tujuannya apalagi kalau bukan mengunjungi sekolah dasar tempat Pak Harfan dan Bu Muslimah mengajar Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, Akiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani dan Harun – SD Muhammadiyah Gantung.

https://static.wixstatic.com/media/8e6f5e_bd9ddf8bf64849e2ade30b2957ed81e0~mv2_d_5312_2988_s_4_2.jpg?dn=20151229_110034.jpg

Dari sana kami meneruskan perjalanan ke Museum Kata yang digagas oleh Andrea Hirata. Satu-satunya museum kata di Indonesia ini berisi bermacam jenis literatur. Sudah pasti karya-karya Andrea Hirata merupakan koleksinya. Disana kata-kata inspitarif yang ada dalam Laskar Pelangi terpampang didindingnya disertai foto pemeran filmnya.

https://static.wixstatic.com/media/8e6f5e_75866a160e9442eb95d599f2a8537bdf~mv2_d_2988_5312_s_4_2.jpg?dn=20151229_115327.jpg

https://static.wixstatic.com/media/8e6f5e_ad53a49f19214af49a062af6a9f87109~mv2_d_2560_1440_s_2.jpg?dn=20151229_120801.jpg
https://static.wixstatic.com/media/8e6f5e_0c488acfb4be409cb1f5949221f9f29e~mv2_d_2560_1440_s_2.jpg?dn=20151229_120851.jpg

Tak jauh dari Museum Kata kami melewati rumah Ahok yang menjadi buah bibir sejak beliau menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta. Rumah  bernuansa daerah Belitung tersebut mudah dikenali karena ada petunjuk jalan serta pagar batu dengan tulisan “RUMAH AHOK” didepannya. Sebenarnya saya lebih ingin melihat rumahnya Yusril Ihza Mahendra yang selama ini sering saya lihat di akun Twiternya karena rumah khas Belitung itu merupakan bangunan tua yang ditempati keluarganya turun temurun. Karena ketiadaan petunjuk jalan keinginan saya tersebut tidak kesampaian.

 Hujan kemudian menghalangi kami untuk melihat-lihat danau kaolin yang banyak bertebaran di Belitung. Danau, lebih tepatnya telaga, tersebut merupakan bekas galian-galian tambang timah yang menjadi urat nadi perekonomian Belintung sejak dulu. Kami meneruskan perjalanan ke Maggar yang menjadi ibukota Kabupaten Belitung Timur. Disana selain berkeliling kota kami pergi ke Bukit Samak. Disana ada sebuah rumah besar bergaya kolonial yang awalnya merupakan kediaman Kepala Administrator Belanda yang dikenal sebagai Tuan Kongsi. Kemudian rumah itu menjadi kediaman Kepala PT.Timah. Dari sana pemandangan laut di depan kota Manggar terpampang dengan jelas. Rumah itu sekarang menjadi kediaman Bupati Belitung Timur.
 https://static.wixstatic.com/media/8e6f5e_3cb655bc52d340ad8c2f82b1f0f95204~mv2_d_2560_1440_s_2.jpg?dn=20151230_090843.jpg
Dipagi terakhir kami di Belitung sebuah mobil uap menyambut kami di halaman Museum Tanjungpandan. Museum ini bercerita tentang sejarah penambangan timah di Belitung. Sebelum ke bandara untuk mengakhiri wisata di Belitung kami menyempatkan diri mengunjungi Rumah Adat Belitung. Koleksi Rumah Adat ini berupa foto-foto lama tentang sejarah Belitung, pakaian daerah dan beberapa peralatan dapur tradisional. Disana saya tahu bahwa nama bandara di Tanjungpandan itu diambil dari nama mantan Bupati Belitung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *