Satyalancana Karya Satya (A Tribute to Papa)

Facebooktwittermail

Pada peringatan Hari Oeang ke-70 ini saya mendapat Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya XX Tahun dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Sepuluh tahun yang lalu saya mendapat Satyalancana Karya Satya X Tahun dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan ini diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang telah bekerja dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, negara dan pemerintah serta dengan penuh pengabdian, kejujuran, kecakapan, dan disiplin secara terus menerus paling singkat 10 tahun, 20 tahun, atau 30 tahun.

Sebagai Pegawai Negeri Sipil, sekarang Aparatur Sipil Negara, penghargaan ini tentu membuat saya bangga karena apa yang telah saya lakukan selama ini diapresiasi. Namun ada yang lebih bersifat personal bagi saya dibalik penghargaan ini.

Dua dokumen yang ditanda tangani Presiden yang ditujukan ke saya ini mengingatkan saya akan Papa. Papa saat saya masih di Sekolah Dasar dan di Sekolah Menengah Pertama selalu memanggil saya untuk memperlihatkan dokumen-dokumen yang ditanda tangani  Presiden yang baru saja diterimanya. Termasuk foto-foto saat bersalaman dengan Presiden di Istana Negara. Ada kebanggaan yang muncul pada kami berdua saat melihat dokumen-dokumen itu. Papa tidak banyak bicara atau memberi beban ke saya agar meraih capaian-capaian sebagaimana yang telah diraihnya. Hanya memperlihatkan ke saya sebelum ia meletakannya di tempat penyimpanan dokumennya yang tertata rapi.  Namun secara tak sadar saya termotivasi setelah itu.

Ada lagi cara Papa dalam memotivasi saya. Dia tidak malu untuk memperlihatkan kegagalannya. Setelah beberapa kali gagal dalam tes mengikuti pendidikan paska sarjana di luar negeri karena kemampuan berbahasa Inggerisnya yang kurang, ia memanggil saya dan menjelaskan sebab kegagalannya meraih kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri itu. Kegagalannya tersebut cukup membuat saya bersedih karena keinginan saya untuk merasakan hidup di The Philippines sebagaimana tetangga sebelah tak terlaksana.  Oh ya, saat itu The Philippines merupakan salah satu kiblat riset pertanian. Kegagalan papa tersebut sudah lebih dari cukup bagi saya sebagai alasan untuk bisa menguasai Bahasa Inggeris dan menempuh pendidikan paska sarjana di luar negeri dengan biaya negara. Alhamdulillah, saya bisa menuntaskan keinginan Papa yang tak terlaksana itu pada tahun 2002.

“Pa, Papa boleh banyak mengkoleksi tanda tangan Presiden. Tapi hanya dari satu Presiden. Saya walau baru punya dua tanda tangan tapi itu berasal dari dua orang Presiden…hahahahaha. Terima kasih, Pa”.

2016-12-05-08-34-22

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *