Terima Kasih, Pak Wali! (Menata Padang dalam Senyap)

Facebooktwittermail

Sejatinya ide tulisan ini ditayangkan pada bulan Februari 2016 lalu. Namun karena kesibukan atau pertimbangan lainnya saya hanya mengungkapkan apresiasi dengan cara mencuit di Twiter dengan hastag #mokasipakwali.

Bamulo cinto tumbuah di hati (salang sabarih yo Uda John Kinawa) adalah tatkala saya terlambat menyadari ada yang berubah di Pasar Lubukbuayo. Bertahun-tahun sebagai seorang perantau saya selalu melewati Pasar Lubukbuayo dihari Minggu yang merupakan hari pasar disana. Biasanya saya berangkat ke Bandara Internasional Minangkabau 15 menit lebih awal dari rencana untuk mengantisipasi kemacetan akibat pasar tumpah. Namun setelah beberapa kali lewat baru disadari kalau perjalanan menuju bandara sangat lancar. Tatkala membicarakan hal itu dengan isteri yang selalu setia mengantar disitulah saya tahu kalau Pasar Lubukbuayo sudah jauh berubah. Pasar sudah tertata rapi dengan bangunan serta lahan parkir yang layak sehingga pedagang dan parkir kendaraan tidak lagi berada di jalan raya yang merupakan jalan utama ke luar kota.

Hal lain yang juga terlambat saya sadari perubahannya adalah jalan Khatib Sulaiman yang sangat asri dan resik. Jalur hijau yang biasanya penuh dengan papan iklan sudah berganti dengan taman yang tertata rapi. Kondisi ini mengingatkan saya akan Surabaya yang asri saat berkunjung kesana beberapa waktu sebelumnya.

Namun diatas segalanya, hal yang harus saya acungkan jempol adalah perubahan yang luar biasa di Pantai Padang. Kawasan pantai yang sebelumnya tak tertata dan dipenuhi bangunan liar membuat pantai itu terkesan kumuh sehingga kawasan yang seharusnya menjadi salah satu objek wisata utama di Kota Padang tidak bisa dimanfaatkan dengan optimal. Saat ini kawasan Pantai Padang menjadi ruang terbuka yang menjadi favorit baik warga kota maaupun wisatawan dari luar kota yang berkunjung ke Padang. Kawasan ini tak pernah sepi sejak pagi hari oleh warga yang berolah raga hingga pengunjung yang ingin menikmati keindahan suasana saat matahari tenggelam. Sudah pasti multiplyer effect-nya dinikmati warga sekitar.

Bagi saya, ketersediaan ruang terbuka hijau yang nyaman khususnya Pantai Padang sebagai tempat rendezvous warga kota sudah cukup menjadi tolak ukur keberhasilan seorang walikota Padang. Hal ini saya sampaikan kepada kawan-kawan saat menjelang pilkada yang lalu karena kecewa dengan kondisi Padang yang semrawut. Perlahan tapi pasti Padang berubah menjadi lebih nyaman. Pasar Nanggalo, Pasar Bandabuek dan Pasar Raya-pun ikut bersolek. Semua berubah dalam senyap!

Namun kerja keras pemerintah kota dalam berbenah tak akan berhasil jika tidak ada partisipasi aktif warga. Ditengah keberhasilan pembenahan masih ada warga yang dengan berbagai alasan menghambat perubahan yang dilakukan. Saya sempat berdiskusi dengan Walikota Padang, Mahyeldi Ansharullah, tentang hal ini saat bersama kawan-kawan menghadap beliau dalam rangka mengundang beliau untuk hadir dalam kegiatan bersih pantai yang kami lakukan. Kami sepakat tentang pentingnya peran serta warga dalam menjaga dan merawat pembenahan yang dilakukan. Namun saya dan beliau agak berbeda pandangan saat saya menyampaikan kegemasan saya melihat hambatan-hambatan yang ada.  Saya menyarankan beliau untuk bertindak tegas karena sosialisasi sudah berkali-kali diadakan dan sudah banyak dampak positif yang dirasakan warga dari pembenahan-pembenahan yang dilakukan. Namun dengan ketenangannya yang khas beliau menjawab: “Sabar, Pak Hilman. Merubah budaya seseorang itu butuh waktu dan kesabaran!” Mungkin karena ini Padang berubah dengan senyap. Dan pasti ketenangan dan kesabaran ini yang membedakan Pak Wali dengan saya yang rakyat badarai, hahaha.

Terima kasih Pak Wali. Semoga Pak Wali dan keluarga senantiasa dilimpahi Allah SWT dengan kesehatan, kekuatan, kesabaran dan kejernihan berpikir dalam menjadikan Kota Padang lebih nyaman. Aamiin!

 

Ayietawa, 20 Desember 2017

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *